Opini, Politik

Poltracking Indonesia : PENGARUH JOKOWI & MIGRASI PEMILIH TERHADAP PETA ELEKTORAL TERKINI

Lintasan-Jakarta . Poltracking Indonesia menyelenggarakan survei nasional dengan pengambilan data
lapangan dilakukan pada tanggal 29November – 5 Desember 2023 dengan menggunakan
metode stratified multistage random sampling. Sampel pada survei ini adalah 1220
responden dengan margin of error +/- 2.9% pada tingkat kepercayaan 95%. Klaster
survei menjangkau 34 provinsi seluruh Indonesia secara proporsional berdasarkan data
jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) 2024, sedangkan stratifikasi survei ini adalah
proporsi jenis kelamin pemilih. Metode sampling representasi seluruh populasi pemilih
secara lebih akurat. Pengumpulan data dilakukan oleh pewawancara terlatih melalui
wawancara tatap muka dengan menggunakan teknologi aplikasi terhadap responden
yang telah terpilih secara acak. Setiap pewawancara mewawancarai 10 responden untuk
setiap satu desa/kelurahan terpilih.

Maksud dan tujuan dari survei ini adalah untuk mengukur peta kekuatan elektoral calon
presiden (capres), calon wakil presiden (cawapres), partai politik, dan melihat
pergerakan pemilih pasca tahapan masa kampanye Pilpres dilaksanakan.
Temuan pokok dan analisis hasil survei ini dapat dijelaskan sebagaimana berikut:
Pertama. Simulasi Surat Suara 3 nama Calon Presiden – Wakil Presiden yang telah
ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), pasangan nomor urut 2 Prabowo
Subianto – Gibran Rakabuming Raka memperoleh elektabilitas (45.2%), diikuti pasangan
nomor urut 3 Ganjar Pranowo – Mahfud MD (27.3%), dan pasangan nomor urut 1 Anies
Baswedan – Muhaimin Iskandar (23.1%). Tren elektabilitas ketiga pasangan Calon
Presiden – Wakil Presiden, Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar cenderung stagnan,
pasangan Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka cenderung naik, dan pasangan
Ganjar Pranowo – Mahfud MD cenderung turun. Elektabilitas pasangan Calon Presiden –
Wakil Presiden, tidak jauh berbeda dengan tren simulasi Calon Presiden tunggal, Anies
Baswedan yang mengalami fluktuatif yang sempat naik di akhir 2022, dan turun pada
pertengahan 2023, kembali naik pada September 2023, dan kini mengalami sedikit
penurunan dari November ke Desember 2023 sebesar (1.3%). Sedangkan elektabilitas
Prabowo Subianto yang mengalami penurunan pada awal tahun 2023, setelah itu
Prabowo Subianto terus mengalami kenaikan. Kenaikan terakhir dari November ke
Desember 2023 sebesar (5.0%). Sedangkan Ganjar Pranowo yang sempat turun di
pertengahan tahun 2023, kembali naik di Juli dan September 2023, dan kembali
mengalami penurunan. Penurunan Ganjar Pranowo dari November ke Desember 2023
(2.8%).

Kedua. Tren kenaikan dan penurunan elektabilitas pasangan Calon Presiden – Wakil
Presiden disebabkan multi faktor. Salah satu yang cukup mempengaruhi yakni Jokowi’s
Effect, pergerakan pemilih yang puas terhadap pemerintahan Joko Widodo dan
pergerakan pemilih Joko Widodo 2019.

a) Tingkat kepuasan terhadap Pemerintahan Joko Widodo mengalami tren kenaikan.
Publik yang puas tersebut sebaran pilihan Calon Presiden – Wakil Presidennya
mengalami pergeseran. Publik yang merasa puas pilihannya kepada Prabowo
Subianto – Gibran Rakabuming Raka mengalami tren kenaikan, dan kenaikan dari
November ke Desember 2023 sebesar (8.2%). Sedangkan berbanding terbalik
dengan pilihan kepada Ganjar Pranowo – Mahfud MD yang mengalami tren
penurunan, dan penurunan dari November ke Desember 2023 (4.2%). Sementara
pilihan kepada Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar lebih fluktuatif, dan
mengalami penurunan pada November ke Desember 2023 (3.3%). Sementara
publik yang tidak puas (17.6%), pilihannya lebih tinggi kepada Anies Baswedan –
Muhaimin Iskandar, pilihan publik yang merasa tidak puas tersebut mengalami
tren kenaikan, kenaikan dari November – Desember 2023 (6.8%). Sedangkan
pilihan kepada Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka sempat naik di
November, namun mengalami penurunan dari November ke Desember 2023
(5.1%). Sementara pilihan terhadap Ganjar Pranowo – Mahfud MD juga
mengalami penurunan, dari November ke Desember 2023 turun sedikit (0.9%).

b) Kenaikan dan penurunan juga dipengaruhi oleh pergerakan elektabilitas kandidat di tiga
provinsi besar di Pulau Jawa, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Di Jawa
Barat, pasangan Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar yang sempat naik pada November,
namun mengalami penurunan pada Desember 2023 dengan penurunan (9.7%).
Sedangkan pasangan Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka sempat turun di
November, namun mengalami kenaikan pada Desember 2023 (18.1%). Sementara
pasangan Ganjar Pranowo – Mahfud MD sempat naik pada November, namun mengalami
penurunan pada Desember 2023 (7.7%). Sedangkan di Jawa Tengah, pasangan Anies
Baswedan – Muhaimin Iskandar sempat naik pada November, namun mengalami
penurunan di Desember 2023 (4.8%). Sedangkan pasangan Prabowo Subianto – Gibran
Rakabuming Raka mengalami tren kenaikan dari November hingga Desember, kenaikan
di Desember 2023 (3.1%).

Sementara pasangan Ganjar Pranowo – Mahfud MD sempat
mengalami penurunan di November, sedangkan di Desember naik tipis (1.2%). Di
Provinsi Jawa Timur, pasangan Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar mengalami tren
naik, kenaikan tipis dari November ke Desember 2023 (1.6%). Pasangan Prabowo
Subianto – Gibran Rakabuming Raka juga mengalami tren kenaikan sejak November
hingga Desember, kenaikan di Desember (4.4%). Sedangkan pasangan Ganjar Pranowo –
Mahfud MD sempat naik sedikit pada November, dan turun pada Desember 2023 (6.1%).

Ketiga. Pemilih Joko Widodo – Ma’ruf Amin pada Pilpres 2019 juga mengalami tren pergeseran
pilihan Calon Presiden – Wakil Presiden. Pemilih Joko Widodo – Ma’ruf Amin yang memilih Ganjar
Pranowo – Mahfud MD mengalami tren penurunan dari September hingga Desember. Penurunan
dari November ke Desember 2023 (4.0%). Sedangkan yang memilih Prabowo Subianto – Gibran
Rakabuming Raka mengalami tren kenaikan, dari November ke Desember 2023 mengalami
kenaikan (8.1%). Sementara yang memilih Anies Baswedan – Muhaimin naik pada November
namun sedikit turun di Desember, dengan penurunan (0.4%).

Keempat. Angka tren elektabilitas terbaru, membuka skenario satu putaran makin membesar
dan skenario dua putaran makin mengecil. Hal itu terlihat dari tren elektabilitas Prabowo
Subianto – Gibran Rakabuming Raka yang mengalami kenaikan hingga menyentuh angka 45
persen di awal Desember ini. Sementara elektabilitas Ganjar Pranowo – Mahfud MD cenderung
mengalami penurunan sejak November hingga awal Desember. Di sisi lain, tren Anies Baswedan
– Muhaimin Iskandar masih stagnan di bawah 25 persen. Namun, jika skenario dua putaran
terjadi akan menjadi kontestasi sengit antar Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar dan Ganjar
Pranowo – Mahfud MD, sedangkan pasangan Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka
hampir pasti maju ke putaran kedua. Sengitnya kontestasi Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar
tak lepas dari jarak elektabilitas keduanya makin mengecil, bahkan jika melihat tren kedua
pasangan tersebut, ada potensi cross karena Ganjar Pranowo – Mahfud MD cenderung turun dan
Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar pernah naik dan saat ini stagnan. Anies Baswedan –
Muhaimin Iskandar akan maju ke putaran kedua jika mampu mendapatkan momentum untuk
menaikan tren elektabilitas, sedangkan Ganjar Pranowo – Mahfud MD akan masuk putaran kedua
jika mampu rebound. Jika skenario dua putaran, pasangan Prabowo Subianto – Gibran
Rakabuming Raka relatif unggul dengan semua kandidat.

Kelima. Pada simulasi Surat Suara partai politik, PDI Perjuangan memperoleh elektabilitas
(22.2%), diikuti Partai Gerindra (18.3%), Partai Golkar (9.8%), PKB (9.4%), Partai NasDem
(8.5%), Partai Demokrat (5.8%), PKS (5.1%), PAN (4.5%), PPP (3.4%), dan Perindo (1.5%).
Sementara partai politik lainnya masih di bawah 1 persen. Partai politik yang memiliki
elektabilitas di atas 1.5% berpotensi masuk ke parlemen. Faktor kerja-kerja mesin politik partai
politik dan pergerakan para Calon Anggota Legislatifnya pada masa kampanye akan sangat
menentukan lolos atau tidak sebuah partai politik ke parlemen.
Keenam. Angka swing voters (32.6%) dan undecided voters (6.7%) jika dijumlahkan masih
cukup tinggi yang tersebar ke ketiga pasangan Calon Presiden – Wakil Presiden. Sehingga peta
politik akan masih sangat dinamis hingga hari pemilihan nantinya. Ditambah kandidat akan
melewati berbagai tahapan Pemilu yakni kampanye dan debat kandidat yang berpotensi mampu
mempengaruhi konstelasi.

Temuan ini merupakan potret terbaru dari survei yang dilakukan pada 29 November
hingga 5 Desember 2023. Berbagai kemungkinan masih berpotensi terjadi, tergantung
isu dan konstelasi kandidat jelang hari pemilihan pada 14 Februari 2024 nanti.
Jakarta, 11 Desember 2023
Hanta Yuda AR
Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia
Contact Person:
Arya Budi (081392028111)

[lintasan / Don Juan ]

Leave a Reply