Bangka Belitung

Bukan Gertak Sambal, Pengacara Terdakwa Korupsi Berani Laporkan Penyidik Kejaksaan Ke Polda Babel

Foto : Penasihat hukum terdakwa, Lauren Harianja SH saat memberikan keterangan di hadapan petugas SPKT Polda Kep Babel. (Yuda)

* Kasi Penkum Kejati Babel :  Akan Kami Jawab Di Dalam Tanggapan JPU

PANGKALPINANG,LB – Tampaknya penasihat hukum terdakwa (Suranto Wibowo/SW), Lauren Harianja SH tak sekedar ‘gertak sambal’ atau pun sekedar ‘mencari panggung’ terkait rencananya bakal melaporkan oknum penyidik bidang Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi Provinsi Bangka Belitung (Kejati Babel) ke pihak Polda Kep Babel.

Namun niat pengacara ini pun akhirnya dibuktikan ia, Jumat (27/12/2019) siang usai ba’da sholat Jumat Lauren bersama rekan seprofesinya akhirnya mendatangi gedung kantor Polda Kep Babel.

Kedatangan para penasihat hukum terdakwa (SW) yang terjerat perkara kasus dugaan tipikor proyek Penerangan Jalan Umum (PJU) solar cell di Kabupaten Belitung & Belitung Timur (Beltim) siang itu guna melaporkan oknum penyidik Pidsus Kejati Babel atas tuduhan atau dugaan perbuatan memberikan keterangan palsu terkait perkara proyek ini yang kini sedang dipersidangkan di Pengadilan Negeri Kelas IB Pangkalpinang.

“Kami mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Kepulauan Babel ini yakni terkait kasus dugaan keterangan palsu dilakukan oleh penyidik Pidsus Kejati Babel yang juga selaku saksi saat dalam persidangan beberapa waktu lalu,” ujar Lauren saat ditemui wartawan di ruang SPKT Polda Kep Babel, Jumat (27/12/2019) siang.

Pantauan reporter LintasanBerita.com, di hadapan petugas SPKT termasuk staf Dit Reskrimum Polda Kep Babel, Lauren mengaku jika ia merupakan pengacara terdakwa (SW) yang diberikan kuasa oleh kliennya (SW) untuk melaporkan dua orang oknum penyidik Pidsus Kejati Babel (Hm & Fr) terkait dugaan memberikan keterangan palsu saat persidangan.

“Mereka kan (Hm & Fr — red) diangkat sumpah saat persidangan perkara klien saya ini (proyek PJU Belitung & Beltim — red). Namun diduga kedua penyidik itu justru kami duga telah memberikan keterangan palsu saat persidangan,” ungkap Lauren di hadapan petugas saat itu.

Persoalan dugaan oknum penyidik Pidsus Kejati Babel diduga memberikan keterangan palsu dalam persidangan perkara tipikor proyek PJU ini sempat pula sebelumnya, Kamis (27/12/2019) kemarin diungkapkan Lauren di hadapan wartawan saat menggelar jumpa pers di gedung pengadilan setempat.

Dimaksudnya, perbuatan keterangan palsu itu yakni perihal perhitungan kerugian negara atas pelaksanaan proyek PJU di dua kabupaten (Belitung & Beltim) senilai Rp 2,9 M lebih tahun anggaran 2018, sementara kerugian negara dikemukakan oleh penyidik Pidsus Kejati Babel menurutnya saat persidangan menyebutkan angka kerugian negara mencapai Rp 2,8 M.

Padahal menurutnya, angka kerugian negara tersebut menurut Badan Pengawas Keuangan & Pembangunan (BPKP) wilayah Babel sebagaimana diungkapkan oleh penyidik itu di hadapan majelis hakimpersidangan yakni senilai Rp 2,8 M saat sidang Prapid di pengadilan setempat.

Namun setelah diketahui olehnya dan terungkap jika hasil perhitungan BPKP saat sidang pembacaan eksepsi, Kamis (26/12/2019) justru berbeda yakni hanya sebesar Rp 550 juta.

“Perhitungan kerugian negara yang disampaikan penyidik itu saat sidang Prapid adalah keterangan palsu. Namun perhitungan dari BPKP itu terungkap justru hanya senilai Rp 550 juta saat persidangan eksepsi kemarin,” terang Lauren.

Sementara itu Kasi Penkum Kejati Babel, Roy Arland SH MH sebelumnya saat dikonfirmasi terkait tudingan penasihat hukum terdakwa (SW), Lauren Harianja soal dugaan oknum penyidik Pidsus Kejati Babel (Hm & Fr) sebagai saksi dalam persidangan perkara kasus tipikor ini dalam persidangan beberapa waktu lalu.
“Akan kami jawab di dalam tanggapan PU terhadap eksepsi PH (Penasihat Hukum — red),” jawab Roy singkat dalam pesan elektronik/ Whats App (WA), Jumat (27/12/2019) sekitar pukul 04.03 WIB.

Meski begitu Roy malah menjawab dengan nada datar terkait rencana pengacara terdakwa (SW) Lauren Harianja akan melaporkan penyidik Pidsus Kejati Babel me Polda Kep Babel.

“Terkait ingin melaporkan penyidik, seorang PH berargumen dipersidangan, kalau di luar persidangan PH itu cuma cari panggung,” sindir Roy. 

Sebaliknya Hm salah satu seorang penyidik Pidsus Kejati Babel justru tak memberikan keterangan lebih jauh saat dikonfirmasi hal serupa.

“Maaf saya belum bisa mengkonfirmasi terkait hal tersebut. Silahkan melalui kasi penkum saja,” jawab Hm dalam pesan WA, Jumat (27/12/2019) sekitar pukul 08.07 WIB. 

Sekedar diketahui, proyek PJU solar cell ini dikerjakan oleh pihak PT Niko Pratama Mandiri (NPM) tahun anggaran (TA) 2019 dengan pagu anggaran Rp 2.983.140.000.00, namun nilai HPS paket Rp 3 011.000.000.00, malah PT NPM yang menjadi pemenang akhir, dan pekerjaan sebanyak 100 titik di dua kabupaten (Belitung & Beltim).

Dalam pelaksanaan kegjatan proyek tersebut berdasarkan Surat Perjanjian Nomor : 671/1631.a/SP-PJUTS/ESDM/2018 tanggal 27 Agustus 2018 senilai Rp 2.983.141.627,40 (termasuk PPN).

Namun dalam pelaksanaan proyek ini pun pihak Kejati Babel sempat mengendus adanya dugaan penyimpangan keuangan negara hingga akhirnya menyeret mantan Kepala ESDM Provinsi Babel (SW), berikut Candra selaku pihak pelaksana dan Hidayat selaku direktur PT NPM ditetapkan sebagai tersangka.

Bahkan sebelumnya mantan pimpinan Kejati Babel, Aditia Warman SH MH pun sempat mengungkapkan di hadapan wartawan jika proyek tersebit dianggapnya telah merugikan keuangan negara Rp 2,8 M lebih atau total lose.Hal itu diungkapkan Aditia Warman sebelum pihak Kejati Babel menetapkan para tersangka (SW, Candra & Hidayat).

Sebelumnya pula tim Pidsus Kejati Babel di bawah pimpinan Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Babel, Edi Ermawan SH MH bersama timnya sempat melakukan penggeledahan kantor intansi ESDM Provinsi Babel dan sempat menyita sejumlah barang bukti berupa berkas di sejumlah ruangan kantor intansi setempat.

Dalam kasus ini, terdakwa SW dikabarkan berhasil ditangkap tim Pidsus Kejati Babel di salah satu rumah makan kawasan Bogor, Jawa Barat, sedangkan Candra ditangkap tim di sebuah resto cepat saji kawasan Kota Sungailiat, Kabupaten Bangka. Sementara Hidayat sendiri diketahui justru lebih awal dilakukan penahahan oleh pihak Kejati Babel. (Yuda)

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close