Bangka Belitung

Dr Binsar Gultom : Hakim Itu Tidak Mudah Menetapkan Seseorang Itu Bersalah

Dr Binsar Gultom SH MH. (Jes)


PANGKALPINANG, LB – Meski seseorang telah ditetapkan sebagai tersangka lantaran dianggap telah melakukan  suatu tindak perbuatan melanggar hukum pidana tertentu hingga perkara/kasus tersebut naik ke meja pengadilan namun belum tentu tersangka tersebut dinyatakan bersalah oleh majelis hakim pengadilan.

“Hakim itu tidak mudah menetapkan seseorang itu bersalah jika hanya seorang saksi tanpa didukung dua alat bukti yang sah secara hukum hingga hakim itu yakin bahwa itu pelakunya atau tidak sebagaiman diatir dalam pasal 183 KUHAP,” ungkap dosen magister hukum di Universitas Esa Unggul Jakarta di sela-sela ia memberikan materi di acara sosialisasi Scientific Crime Investigation yang diikuti sejumlah anggota kepolisian di wilayah hukum Polda Kep Bangka Belitung (Babel), Selasa (9/10/2019) di ballroom Novotel Bangka.

Dalam kesempatan itu pula hakim tinggi Dr Binsar Gultom SH SE MH yang tenar dalam penanganan kasus ‘Kopi Maut Bersianida’ ini sekarang berdinas di Pengadilan Tinggi Banten ini pun sempat memberikan penjelasan seputar penerapan di lapangan terkait alat-alat bukti yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

“Selama ini dalam praktek pembuktiannya  di lapangan justru minim alat-alat buktinya dalam kasus-kasus tindak pidana umum. Nah ini justru menjadi kendala pihak bagi pihak kepolisian dalam mengajukan bukti perkara itu ke pihak kejaksaan,” terangnya.

Namun begitu ditegaskan hakim yang akrab disapa pak BG ini justru hal tersebut bukanlah halangan baginya dalam menyidang perkara tersebut, sebaliknya diakui BG ia sendiri pun pernah menangani perkara kasus tindak pidana umum yakni kasus Kopi Maut Bersianida dengan terpidana yakni Jesica Wongso Kumolo.

“Sekali pun dalam kasus kopi maut bersianida sekali pun tidak saksi primer yang menyaksikan langsung pidana itu namun bukan berarti seseorang itu harus dibebaskan akan tetapi kejadian itu bisa dirangkai dengan alat-alat bukti sekunder yang ada kaitannya yang diatur dalam pasal 184 KUHAP,” tegas mantan hakim tinggi Pengadilan Tinggi Babel.

Selain itu dijelaskanya sesuai pasal 189 KUHAP bahwa keterangan terdakwa hanya berlaku pada diri terdakwa atau dianggap paling terendah.  

Kegiatan acara sosialisasi Scientific Crime Investigation ini digelar oleh pihak Biddokes Polda Kep Babel yang dibuka langsung oleh Kapolda Kep Babel, Brigjen Pol Istiono serta menghadirkan narasumber lainnya asal mabes Polri, Kombes Pol Pramujoko. (Yuda/Jes)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close